Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa pada Era Globalisasi

Integration of Local Wisdom in Indonesian Language Learning for Students in the Era of Globalization

Authors

  • Nurul Hudayanti Mahas Universitas Islam As’adiyah Sengkang

Keywords:

kearifan lokal; pembelajaran Bahasa Indonesia; globalisasi; identitas budaya

Abstract

Era globalisasi membawa perubahan mendasar dalam lanskap pendidikan tinggi di Indonesia, termasuk dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Di tengah derasnya arus budaya global yang berpotensi mengikis identitas lokal, integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat ditawar. Kearifan lokal, sebagai akumulasi pengetahuan, nilai, dan praktik budaya yang diwariskan lintas generasi, menyimpan kekayaan linguistik dan retorik yang dapat memperkaya kompetensi berbahasa mahasiswa sekaligus memperkokoh identitas kebangsaan mereka. Artikel ini mengkaji secara komprehensif bagaimana integrasi kearifan lokal dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di jenjang perguruan tinggi pada era globalisasi. Pembahasan mencakup tiga aspek utama, yaitu landasan konseptual dan teoretis integrasi kearifan lokal dalam pendidikan bahasa, strategi dan model pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal, serta tantangan dan peluang implementasinya di era globalisasi. Kajian ini diharapkan memberikan kontribusi akademis dan praktis bagi para dosen, perancang kurikulum, dan pemangku kebijakan pendidikan dalam upaya mewujudkan pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual, bermakna, dan berkarakter.

References

Byram, M. (2008). From foreign language education to education for intercultural citizenship: Essays and reflections. Multilingual Matters.

Damayanti, R. (2017). Pembelajaran bahasa berbasis kearifan lokal sebagai upaya penguatan karakter bangsa di era globalisasi. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 6(2), 78–94. https://doi.org/10.21009/JPBSI.062.08

Darling-Hammond, L., & Bransford, J. (Eds.). (2005). Preparing teachers for a changing world: What teachers should learn and be able to do. Jossey-Bass.

Foley, W. A. (1997). Anthropological linguistics: An introduction. Blackwell.

Freire, P. (2000). Pedagogy of the oppressed (30th anniversary ed., M. B. Ramos, Trans.). Continuum. (Original work published 1968)

Gay, G. (2018). Culturally responsive teaching: Theory, research, and practice (3rd ed.). Teachers College Press.

Giroux, H. A. (2011). On critical pedagogy. Continuum.

Haugen, E. (1972). The ecology of language. Stanford University Press.

Johnson, D. W., Johnson, R. T., & Smith, K. A. (2014). Cooperative learning: Improving university instruction by basing practice on validated theory. Journal on Excellence in College Teaching, 25(3–4), 85–118.

Kemendikbud. (2021). Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Kramsch, C. (2014). Language and culture. Oxford University Press.

Lantolf, J. P., & Thorne, S. L. (2006). Sociocultural theory and the genesis of second language development. Oxford University Press.

Mufwene, S. S. (2008). Language evolution: Contact, competition and change. Continuum.

Muhsyanur, M. (2024a). Bahasa Santri Konsep, Etika, dan Kebijakan Penggunaan Bahasa Indonesia di Pondok Pesantren. Mitra Mandiri Persada.

Muhsyanur, M. (2024b). Catatan Melody Nusantara: Menguak Harmoni Budaya Bugis dalam Nyanyian Rakyat. Buginese Art, Yogyakarta.

Muhsyanur, M. (2025). Praktik Alih Kode Bahasa Indonesia-Bugis dalam Pengajian di Pesantren As’ adiyah: Strategi Linguistik untuk Memperdalam Pemahaman Keagamaan Santri Multikultural. Sawerigading, 31(1), 1–15. https://sawerigading.kemendikdasmen.go.id/index.php/sawerigading/article/view/1560/0

Muhsyanur, Rahmatullah, A. S., Misnawati, Dumiyati, & Ghufron, S. (2021). The Effectiveness of “Facebook” As Indonesian Language Learning Media for Elementary School Student: Distance Learning Solutions in the Era of the COVID-19 Pandemic. Multicultural Education, 7(04), 38–47. https://www.mccaddogap.com/ojs/index.php/me/article/view/8%0Ahttps://www.mccaddogap.com/ojs/index.php/me/article/download/8/10

Rahyono, F. X. (2009). Kearifan budaya dalam kata. Wedatama Widya Sastra.

Robertson, R. (1995). Glocalization: Time-space and homogeneity-heterogeneity. In M. Featherstone, S. Lash, & R. Robertson (Eds.), Global modernities (pp. 25–44). SAGE Publications.

Sartini, N. W. (2004). Menggali kearifan lokal budaya Jawa lewat ungkapan (bebasan, saloka, dan paribasa). Jurnal Filsafat, 37(1), 28–38. https://doi.org/10.22146/jf.31323

Sibarani, R. (2014). Kearifan lokal: Hakikat, peran, dan metode tradisi lisan. Asosiasi Tradisi Lisan.

Stoller, F. L. (2006). Establishing a theoretical foundation for project-based learning in second and foreign language contexts. In G. H. Beckett & P. C. Miller (Eds.), Project-based second and foreign language education: Past, present, and future (pp. 19–40). Information Age Publishing.

Sugono, D. (2015). Bahasa Indonesia dalam era globalisasi: Peluang dan tantangan. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud.

Downloads

Published

2026-05-16

How to Cite

Mahas, N. H. (2026). Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Mahasiswa pada Era Globalisasi: Integration of Local Wisdom in Indonesian Language Learning for Students in the Era of Globalization. ASCIDIA: As’adiyah Multidisciplinary Proceedings, 1(1 (Juni), 207–219. Retrieved from https://journal.unisad.ac.id/index.php/ascidia/article/view/462

Similar Articles

<< < 1 2 3 > >> 

You may also start an advanced similarity search for this article.